25 Oktober 2012

Perencanaan pemanfaatan Panas Bumi Ngebel Ponorogo sebagai PLTP




A.    Latar belakang
1. Situasi Kelistrikan di Indonesia
Situasi ketenagalistrikan Indonesia sekarang menunjukan adanya ketidakseimbangan antara pertumbuhan konsumsi energy listrik yang tinggi yang mencapai 6,63% pertahun dengan kemampuan PLN untuk memenuhi kebutuhan permintaan energy yang masih kurang. Salah satu penyebabnya situasi ini adalah krisis ekonomi 1997yang menyebabkan PLN kehilangan momentum investasi untuk melakukan ekspansi fasilitas ketenagalistrikan. Sehingga saat ini kondisi ketenagalistrikan Indonesia seperti yang ditunjukan table A.1 yaitu daya yang terpasang sebesar 29.27GW. sedangkan daya mampu 25,5GW sedang beban puncak 26,67 GW. Lebih dari 73% daya terpasang atau 22.5 Gw
masih dipulau jawasehingga disimpulkan distribusi listrik di Indonesia masih belum merata.
Tabel A.1 Neraca Daya (MW) di Indonesia
            Dari sisi pembangkit Listrik, ketergantungan terhadap energy fosil masih sangat tinggi seperti yang ditunjukan pada table A.2 Sekitar 29,3 GW daya yang terpasang 86%  ato sekitar 25,3 GW masih berasal dari pembangkit tenaga fosil dan hanya 3,94Gw yang memakai energy terbarukan. 
Table A.2 Komposisi Pembangkit Listrik di Indonesia
Ketergantungan pembangkit fosil terhadap BBM (bahan bakar minyak) sangat tinggi. Data statistic PLN tahun 2007 menunjukan 33% energy mix  berasal dari BBM. Ketergantungan BBM ini tidak mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri sehingga harus mengandalkan impor. Jika terjadi fluktuasi atau kenaikan harga minyak dunia , keamanan pasokan energy (security of energy supply ) tidak akan terjamin. Maka oleh karena itu perlu langkah-langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap energy fosil khususnya minyak bumi yang jumlahnya terbatas dan tidak bias diperbarui ini.
2.  Kondisi Ketenagalistrikan  di Ponorogo
                        Kondisi d\ketenagalistrikan di Ponorogo sampai saat ini belum memiliki pembangkit sendiri sehingga sangat tergantung dari pasokan listrik dari P3B region jawa Bali dengan beban puncak sebesar 39, 17 MW dengan daya terpasang 116,13 MVA (2007). Angka pemadaman rata rata selama setahun ( Saidi) 64,64 menit perpelanggan /tahaun, SAIFI 1,458 kali/pelanggan/tahun. Nilai ini lebih rendah dari pada SAIDI maupun SAIFI Jawa Timur. Sehingga disimpulkan keandalannya sangat baik dibandingkan rata-rata daerah dijawa timur.
                        Jumlah Pelanggan di Ponorogo pada tahun 2007 sebanyak 168965 pelanggan dengan didominasi pelanggan rumah tangga sebesar 161.946 pelanggan ( 95,55%). Pelanggan public 2,57% bisnis 1,85% industri 0,032%.

B.     Potensi Panas Bumi
1. Potensi panas Bumi Dunia
                        Saat ini diperkirakan potensi panas bumi didunia sebesar 67,5 GWe. Sedangkan kapasitas terpasang sebesar 12,09 Gwe. Potensi ini sebagian besar didaerah Asia, amerika, dan Eropa yang dilalui rangkaian pegunungan sirkum Pasifik dan sirkum Mediterania. Indonesia memiliki potensi 27 GWe atau 40 % dari potensi dunia. Tetapi dari potensi yang ada di Indonesia hanya 435 Mw daya yang terpasang (1,6%) dari seluruh potensi yang dimiki Indonesia. Hal ini sangat jauh dari Negara-negara lain yang sudah banyak memanfaatkan energy ini. 
Tabel B.1 Potensi panas bumi Negara lain
                        Dari data tersebut diatas bahwa Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar tetapi dalam hal pemanfaatannya masih sangat-sangat kurang. Ditengah  terus naiknya harga minyak dunia ,potensi panas bumi ini seharusnya mendapatkan perhatian serius demi jaminan keamanan pasokan energy nasional.
     2. Potensi panas Bumi di Indonesia
        Menurut data 2007 Wilayah pengembangan panas bumi di Indonesia  terdapat 22 lokasi wilayah pengembangan dengan rincian 7 lokasi telah berada dalam tahap produksi. 9 lokasi dalam proses pengembangan dan sisanya 6 lokasi dalam proses tender.
            3. Potensi panas bumi di Jawa Timur
          Jawa timur memiliki potensi panas bumi yang cukup besar. Berada pana urutan ke 7 dari 33 provinsi dengan potensi 1,2 GW. Jawa barat berada di posisi pertama dengan potensi 5,6 GW dan dimanfaatkan sebesar 726 MW. Jawa timur masih belum memanfaatkan potensi ini dan masih mengandalkan energy fosil yang menghasilkan emisi karbon yang tinggi dan tidak terbarukan.
Wilayah jawa timur yang berpotensi adalah kawasan lingkungan vulkanik atau lingkungan gunung berapi mulai dari panas bumi ngegel gunung wilis, gunung pandan, arjuno, welirang, tiris. Blawean- Ijen. Potensi terbesar di Bawean – Ijen dengan 185 MWe.

C.    Potensi Panas Bumi Ngebel
Potensi panas bumi ngebel terletak pada daerah gunung wilis kabupaten ponorogo jawa timur. Survey pendahuluan dilaksanakan oleh Pertamina(persero). Selanjutnya dengan penyelidikan lebih rinci meliputi analisa geologi, analisa geokimia, analisa geofisika dan analisa pengeboran minyak didapat kan hasil:
a.       Mata air Padusan dengan temperature 74 C
b.      Batuan Ubahan dan Fumanol dengan temperature 87,7 C
c.       Perkiraan suhu bawah permukaan sekitar 240 C
d.      Luas wilayah prospek sekitar 15 Km persegi.
e.       Kondisi lingkungan merupakan endapan vulkanik gunung wilis
f.       Potensi cadangan terduga 120 MW
Perkiraan potensi cadangan terduga ini didapat dari hasil penghitungan bedasarkan  standarisasi Potensi Panas Bumi Indonesia (DGSM 1999) .
Q = 0,11585 x A x (Tres –Tcut off)
Dimana:
Q                     = potensi energy panas bumi terduga (MWe)
0,11585           = konstanta
A                     = luas daerah potensi (Km2)
Tres                   = suhu bawah permukaan (0C)
Tcut off                    = suhu cut off 120 0C
Sehingga perkiraan potensi panas bumi ngebel adalah:
Q         = 0,11585 x 15 x (240-120)
            = 208.53 MWe (200 Mwe)
Namun sesuai kajian dari PGE dan keputusan menteri ESDM potensi yang dimanfaatkan adalah 120 MWe. Tetapi kabar terbaru tender pengembangan PLT panas bumi Ngebel dimenangkan oleh perusahaan Bakri grup dan akan dikembangkan pembangkit panas bumi Ngebel  3 x 55 MW atau 165 MW. Artinya melebihi keputusan menteri ESDM.
Teknologi pembangkit listrik panas bumi bedasarkan jenis fluida kerja panas bumi yang diperoleh terbagi menjadi 3 jenis yaitu:
a.       Vapor dominated system ( system dominasi uap)
b.      Flushed steam system
c.       Binary cycle system
No
Sistem Pembangkitan
Klasifikasi
1
Vapor dominated system
>370 0C
2
Flushed steam system
170 – 370 C
3
Binary cycle system
150 – 205 C
Table C1. System Pembangkitan Panas bumi
Dari data tersebut bias disimpulkan bahwa:
Ø  Telaga Ngebel Gunung Wilis berpotensi untuk membangkitkan tenaga listri 3 x 55 MW atau 165 MW
Ø  Dari suhu yang terukur maka uap dari sumur produksi Ngebel mengandung air dan harus dipisahkan sebelum memutar turbin.
Ø  System pembangkitan panas bumi bias menggunakan system Flushed cycle system karena temperature kerjanya sesuai.
Perkiraan Energi Listrik yang dihasilkan selama setahun
Energy Listrik = kapasitas x jam operasional x factor kapasitar
                        = 165 MW x 8760 jam x 0,8(asumsi paling rendah)
                        =1.156.320.000 kWh/tahun

D.    Analisa Dampak Lingkungan
1.      Dampak Negatif
a.       Uap panas bumi yang keluar dari sumur terdiri atas uap air, air panas, dan beberapa jenis pengotor.
Cara menanggulangi:
·         Pada alat pemisah dan pembersih pengotor pengotor seperti belerang dipisahkan
b.      Belerang yang telah dipisahkan akan menjadi masalah jika dibuang sembarangan seperti jika dibuang di sungai yang merupakan sumber kehidupan di pedesaan sehingga limbah harus diolah dan dimanfaatkan.
c.       Meningkatnya kebisingan dan getaran
Cara menaggulangi :
·         Menaruh turbin di ruangan tertutup dan menanami sekitar lokasi pembangkit
d.      Rawan terjadi kecelakaan kerja
Cara menanggulangi:
·         Menerapkan standar K3 (kesehatan dan keselamatan Kerja) yang ketat seperti pembatasan akses masuk bagi yang tidak berwenang, standar pakaian kerja dll

2.      Dampak Positif
a.       Panas bumi termasuk energy ramah lingkungan karena mengeluarkan emisi karbon 100 kg/MWh jauh berada di bawah ambang batas 782 kg / MWh
b.      Belerang yang diolah dapat dijual
c.       Proses produksi tidak menghasilkan limbah cair dan tidak ada emisi gas NOx dan SO2
d.      meningkatkan pendapatan pemerintah disektor pajak
e.       timbulnya peluang kerja baik ketika pembangunan proyek maupun saat operasi.


                       
  .

1 komentar:

  1. Selamat siang Pak Edy, saya Inggrid mahasiswi Penginderaan Jauh UGM. Kebetulan saat ini saya sedang mengkaji tentang geothermal di Ngebel sebagai bahan skripsi saya. Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan pak, mungkin bapak bersedia memberikan alamat email bapak, terimakasih.

    BalasHapus