Situasi
ketenagalistrikan Indonesia sekarang menunjukan adanya ketidakseimbangan antara
pertumbuhan konsumsi energy listrik yang tinggi yang mencapai 6,63% pertahun
dengan kemampuan PLN untuk memenuhi kebutuhan permintaan energy yang masih
kurang. Salah satu penyebabnya situasi ini adalah krisis ekonomi 1997yang
menyebabkan PLN kehilangan momentum investasi untuk melakukan ekspansi
fasilitas ketenagalistrikan. Sehingga saat ini kondisi ketenagalistrikan
Indonesia seperti yang ditunjukan table A.1 yaitu daya yang terpasang sebesar 29.27GW.
sedangkan daya mampu 25,5GW sedang beban puncak 26,67 GW. Lebih dari 73% daya
terpasang atau 22.5 Gw
masih dipulau jawasehingga disimpulkan distribusi listrik di Indonesia masih belum merata.
masih dipulau jawasehingga disimpulkan distribusi listrik di Indonesia masih belum merata.
Tabel
A.1 Neraca Daya (MW) di Indonesia
Dari sisi pembangkit Listrik,
ketergantungan terhadap energy fosil masih sangat tinggi seperti yang
ditunjukan pada table A.2 Sekitar 29,3 GW daya yang terpasang 86% ato sekitar 25,3 GW masih berasal dari
pembangkit tenaga fosil dan hanya 3,94Gw yang memakai energy terbarukan.
Ketergantungan
pembangkit fosil terhadap BBM (bahan bakar minyak) sangat tinggi. Data
statistic PLN tahun 2007 menunjukan 33% energy mix berasal dari BBM. Ketergantungan BBM ini
tidak mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri sehingga harus mengandalkan
impor. Jika terjadi fluktuasi atau kenaikan harga minyak dunia , keamanan
pasokan energy (security of energy supply ) tidak akan terjamin. Maka oleh
karena itu perlu langkah-langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap
energy fosil khususnya minyak bumi yang jumlahnya terbatas dan tidak bias
diperbarui ini.
2.
Kondisi Ketenagalistrikan di
Ponorogo
Kondisi
d\ketenagalistrikan di Ponorogo sampai saat ini belum memiliki pembangkit
sendiri sehingga sangat tergantung dari pasokan listrik dari P3B region jawa
Bali dengan beban puncak sebesar 39, 17 MW dengan daya terpasang 116,13 MVA
(2007). Angka pemadaman rata rata selama setahun ( Saidi) 64,64 menit
perpelanggan /tahaun, SAIFI 1,458 kali/pelanggan/tahun. Nilai ini lebih rendah
dari pada SAIDI maupun SAIFI Jawa Timur. Sehingga disimpulkan keandalannya
sangat baik dibandingkan rata-rata daerah dijawa timur.
Jumlah Pelanggan di
Ponorogo pada tahun 2007 sebanyak 168965 pelanggan dengan didominasi pelanggan
rumah tangga sebesar 161.946 pelanggan ( 95,55%). Pelanggan public 2,57% bisnis
1,85% industri 0,032%.
B.
Potensi
Panas Bumi
1.
Potensi panas Bumi Dunia
Saat ini diperkirakan
potensi panas bumi didunia sebesar 67,5 GWe. Sedangkan kapasitas terpasang
sebesar 12,09 Gwe. Potensi ini sebagian besar didaerah Asia, amerika, dan Eropa
yang dilalui rangkaian pegunungan sirkum Pasifik dan sirkum Mediterania.
Indonesia memiliki potensi 27 GWe atau 40 % dari potensi dunia. Tetapi dari
potensi yang ada di Indonesia hanya 435 Mw daya yang terpasang (1,6%) dari
seluruh potensi yang dimiki Indonesia. Hal ini sangat jauh dari Negara-negara
lain yang sudah banyak memanfaatkan energy ini.
Tabel B.1 Potensi panas bumi Negara lain
Dari data tersebut
diatas bahwa Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar tetapi dalam hal
pemanfaatannya masih sangat-sangat kurang. Ditengah terus naiknya harga minyak dunia ,potensi
panas bumi ini seharusnya mendapatkan perhatian serius demi jaminan keamanan
pasokan energy nasional.
2. Potensi panas Bumi di Indonesia
Menurut data 2007 Wilayah pengembangan
panas bumi di Indonesia terdapat 22
lokasi wilayah pengembangan dengan rincian 7 lokasi telah berada dalam tahap
produksi. 9 lokasi dalam proses pengembangan dan sisanya 6 lokasi dalam proses
tender.
3. Potensi panas bumi di Jawa Timur
Jawa timur memiliki potensi panas bumi
yang cukup besar. Berada pana urutan ke 7 dari 33 provinsi dengan potensi 1,2
GW. Jawa barat berada di posisi pertama dengan potensi 5,6 GW dan dimanfaatkan
sebesar 726 MW. Jawa timur masih belum memanfaatkan potensi ini dan masih
mengandalkan energy fosil yang menghasilkan emisi karbon yang tinggi dan tidak
terbarukan.
Wilayah
jawa timur yang berpotensi adalah kawasan lingkungan vulkanik atau lingkungan
gunung berapi mulai dari panas bumi ngegel gunung wilis, gunung pandan, arjuno,
welirang, tiris. Blawean- Ijen. Potensi terbesar di Bawean – Ijen dengan 185
MWe.
C.
Potensi
Panas Bumi Ngebel
Potensi
panas bumi ngebel terletak pada daerah gunung wilis kabupaten ponorogo jawa
timur. Survey pendahuluan dilaksanakan oleh Pertamina(persero). Selanjutnya
dengan penyelidikan lebih rinci meliputi analisa geologi, analisa geokimia,
analisa geofisika dan analisa pengeboran minyak didapat kan hasil:
a. Mata
air Padusan dengan temperature 74 C
b. Batuan
Ubahan dan Fumanol dengan temperature 87,7 C
c. Perkiraan
suhu bawah permukaan sekitar 240 C
d. Luas
wilayah prospek sekitar 15 Km persegi.
e. Kondisi
lingkungan merupakan endapan vulkanik gunung wilis
f. Potensi
cadangan terduga 120 MW
Perkiraan
potensi cadangan terduga ini didapat dari hasil penghitungan bedasarkan standarisasi Potensi Panas Bumi Indonesia
(DGSM 1999) .
Q = 0,11585 x A x (Tres –Tcut off)
Dimana:
Q
= potensi energy panas
bumi terduga (MWe)
0,11585 = konstanta
A = luas daerah potensi (Km2)
Tres = suhu bawah permukaan (0C)
Tcut
off = suhu cut
off 120 0C
Sehingga
perkiraan potensi panas bumi ngebel adalah:
Q = 0,11585 x 15 x (240-120)
= 208.53 MWe (200 Mwe)
Namun
sesuai kajian dari PGE dan keputusan menteri ESDM potensi yang dimanfaatkan
adalah 120 MWe. Tetapi kabar terbaru tender pengembangan PLT panas bumi Ngebel
dimenangkan oleh perusahaan Bakri grup dan akan dikembangkan pembangkit panas
bumi Ngebel 3 x 55 MW atau 165 MW.
Artinya melebihi keputusan menteri ESDM.
Teknologi
pembangkit listrik panas bumi bedasarkan jenis fluida kerja panas bumi yang
diperoleh terbagi menjadi 3 jenis yaitu:
a. Vapor
dominated system ( system dominasi uap)
b. Flushed
steam system
c. Binary
cycle system
No
|
Sistem Pembangkitan
|
Klasifikasi
|
1
|
Vapor
dominated system
|
>370 0C
|
2
|
Flushed
steam system
|
170
– 370 C
|
3
|
Binary
cycle system
|
150
– 205 C
|
Table
C1. System Pembangkitan Panas bumi
Dari
data tersebut bias disimpulkan bahwa:
Ø Telaga
Ngebel Gunung Wilis berpotensi untuk membangkitkan tenaga listri 3 x 55 MW atau
165 MW
Ø Dari
suhu yang terukur maka uap dari sumur produksi Ngebel mengandung air dan harus
dipisahkan sebelum memutar turbin.
Ø System
pembangkitan panas bumi bias menggunakan system Flushed cycle system karena
temperature kerjanya sesuai.
Perkiraan
Energi Listrik yang dihasilkan selama setahun
Energy
Listrik = kapasitas x jam operasional x factor kapasitar
= 165 MW x 8760 jam x
0,8(asumsi paling rendah)
=1.156.320.000 kWh/tahun
D.
Analisa
Dampak Lingkungan
1. Dampak
Negatif
a. Uap
panas bumi yang keluar dari sumur terdiri atas uap air, air panas, dan beberapa
jenis pengotor.
Cara
menanggulangi:
·
Pada alat pemisah dan pembersih pengotor
pengotor seperti belerang dipisahkan
b. Belerang
yang telah dipisahkan akan menjadi masalah jika dibuang sembarangan seperti
jika dibuang di sungai yang merupakan sumber kehidupan di pedesaan sehingga
limbah harus diolah dan dimanfaatkan.
c. Meningkatnya
kebisingan dan getaran
Cara
menaggulangi :
·
Menaruh turbin di ruangan tertutup dan
menanami sekitar lokasi pembangkit
d. Rawan
terjadi kecelakaan kerja
Cara menanggulangi:
·
Menerapkan standar K3 (kesehatan dan
keselamatan Kerja) yang ketat seperti pembatasan akses masuk bagi yang tidak
berwenang, standar pakaian kerja dll
2. Dampak
Positif
a. Panas
bumi termasuk energy ramah lingkungan karena mengeluarkan emisi karbon 100
kg/MWh jauh berada di bawah ambang batas 782 kg / MWh
b. Belerang
yang diolah dapat dijual
c. Proses
produksi tidak menghasilkan limbah cair dan tidak ada emisi gas NOx dan SO2
d. meningkatkan
pendapatan pemerintah disektor pajak
e. timbulnya
peluang kerja baik ketika pembangunan proyek maupun saat operasi.
.
Selamat siang Pak Edy, saya Inggrid mahasiswi Penginderaan Jauh UGM. Kebetulan saat ini saya sedang mengkaji tentang geothermal di Ngebel sebagai bahan skripsi saya. Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan pak, mungkin bapak bersedia memberikan alamat email bapak, terimakasih.
BalasHapus